Perkembangan UKM di Tanah Air dari tahun ke tahun terus meningkat, baik jumlah maupun ragam usaha yang digelutinya. Hanya saja, masih banyak ketimpangan yang menyelimuti pelaku UKM, di mana banyak tawaran produk namun belum didukung pasar.
Founder Komunitas UKM Jatim Wuryanano mengakui, ia cukup senang melihat geliat masyarakat yang ingin berusaha mandiri dengan belajar merintis usaha sendiri. Meski tanpa modal atau bahkan rela merogoh tabungan sendiri, kalangan UKM pemula cukup semangat menciptakan produk dan ikut beragam pelatihan.
“Sayangnya, kondisi itu tak diimbangi pasar yang mendukung. Bahkan sebagian besar UKM kita tak peduli itu. Mereka hanya berpikir produksi-produksi atau menciptakan inovasi baru saja,” kata Wuryanano, Jumat (16/7).
Sebagai produk UKM, lanjutnya, tentu saja produknya belum banyak dikenal. Dan ini perlu waktu dan proses bagi calon pembeli untuk memutuskan membeli. Sebetulnya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menjaring pasar atau paling tidak mengenalkan produknya ke publik. Selain mengikuti pameran, sebaiknya aktif dalam pertemuan bisnis yang sering digelar komunitas UKM.
“Di Jatim, kita sering menggelar pertemuan bersama komunitas UKM. Terbukti banyak anggota yang berhasil karena di sini merupakan media pemasaran dan memperkuat jaringan usaha dan pasar,” urai pimpinan lembaga pendidikan profesi Swastika Prima ini.
Ironisnya, ucap Wuryanano, selama ini ia sering mendapati banyak UKM yang justru enggan ikut pertemuan semacam itu. Alasannya bermacam-macam, mulai tak ada waktu karena terlibat di produksi hingga malas.
Padahal, jika ingin maju, pelaku atau pemilik usaha tak harus setiap hari terlibat langsung dalam urusan produksi. “Produksi bisa diserahkan kepada orang lain yang dipercaya, sehingga pemilik bisa leluasa bergerak untuk mencari pasar,” tegasnya.
Di sisi lain, ia melihat selama ini UKM terkesan menggantungkan bantuan pemerintah atau BUMN. Ini bisa dilihat dari kurang antusiasnya mereka ketika mendapat kesempatan ikut dalam pameran.
“Keikut sertaan dalam pameran seakan hanya sebagai prasyarat dan pelengkap. Padahal momen itu bisa dimaksimalkan untuk mengenalkan produk kita, karena pengunjung lebih segmented,” imbuh Wuryanano. surya.co.id
Tampilkan postingan dengan label Kiat Usaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiat Usaha. Tampilkan semua postingan
Senin, 22 November 2010
Minggu, 21 November 2010
Kenali Pelanggan Anda dengan Lebih Baik
Ada beberapa tipe konsumen yang perlu memperoleh perhatian dan kecermatan pengusaha dalam mengadakan pendekatan pemasaran.
Tipe inisiator senang memberi masukan berbagai hal tentang produk, juga aktif menjadi yang pertama dalam perubahan perusahaan. Tipe influenter suka mempengaruhi pihak lain untuk menggunakan layanan perusahaan. Terakhir, tipe decider yaitu orang yang independen, mengambil keputusan.
Thomas S Caroll pimpinan perusahaan penyewaan truk Lever Brothers memberikan beberapa tips agar mengenali pelanggan perusahaan. Cara tersebut adalah dengan menggali berbagai hal tentang pelanggan. Beberapa pertanyaan dalam wawancara tersebut :
Pertama, pertanyaan tentang produk perusahaan dan pesaing. Dengan ini perusahaan bisa menggali apakah terjadi perubahan pandangan konsumen terhadap produk atau tidak. Begitu juga dengan posisi pesaing dimata pelanggan.
Kedua, menggali motivasi konsumen dalam menggunakan produk. Perusahaan bisa mengetahui latar belakang konsumen dalam bertransaksi sampai pada hal-hal khusus yang diinginkan dari produk.
Ketiga, bagaimana konsumen menggunakan produk. Perusahaan bisa mengetahui kebiasaan konsumen, kemudian bisa segera membuat penyesuaian.
Keempat, perusahaan bisa meminta pendapat konsumen tentang pengembangan yang dilakukan agar tidak memperoleh penolakan dikemudian hari.
Kelima, apa yang diharapkan dari produk perusahaan. Dalam menggunakan produk, produsen tentu ingin memperoleh manfaat seperti harapannya.
http://www.surya.co.id
Tipe inisiator senang memberi masukan berbagai hal tentang produk, juga aktif menjadi yang pertama dalam perubahan perusahaan. Tipe influenter suka mempengaruhi pihak lain untuk menggunakan layanan perusahaan. Terakhir, tipe decider yaitu orang yang independen, mengambil keputusan.
Thomas S Caroll pimpinan perusahaan penyewaan truk Lever Brothers memberikan beberapa tips agar mengenali pelanggan perusahaan. Cara tersebut adalah dengan menggali berbagai hal tentang pelanggan. Beberapa pertanyaan dalam wawancara tersebut :
Pertama, pertanyaan tentang produk perusahaan dan pesaing. Dengan ini perusahaan bisa menggali apakah terjadi perubahan pandangan konsumen terhadap produk atau tidak. Begitu juga dengan posisi pesaing dimata pelanggan.
Kedua, menggali motivasi konsumen dalam menggunakan produk. Perusahaan bisa mengetahui latar belakang konsumen dalam bertransaksi sampai pada hal-hal khusus yang diinginkan dari produk.
Ketiga, bagaimana konsumen menggunakan produk. Perusahaan bisa mengetahui kebiasaan konsumen, kemudian bisa segera membuat penyesuaian.
Keempat, perusahaan bisa meminta pendapat konsumen tentang pengembangan yang dilakukan agar tidak memperoleh penolakan dikemudian hari.
Kelima, apa yang diharapkan dari produk perusahaan. Dalam menggunakan produk, produsen tentu ingin memperoleh manfaat seperti harapannya.
http://www.surya.co.id
Tingkatkan Reputasi Usaha CSR
Membangun sebuah usaha bukan berarti mengambil semua manfaat untuk kepentingan pengusaha, ada fihak lain yang juga harus memperoleh nilai tambah. Inilah yang disebut sebagai tanggung jawab sosial sebuah usaha terhadap lingkungan, atau disebut Corporate Sosial Responsibility (CSR).
Model ini sebetulnya telah berkembang dalam budaya bangsa Indonesia. Dulu kalau orang memanen padi menggunakan cara gebyok di bantalan kayu selalu tidak dibikin sangat bersih. Karena mesti disisakan bagi yang tidak punya sawah untuk ngasak (mencari sisa gebyokan padi), guna memenuhi kebutuhan pangan sanak keluarganya. Bagitu juga, ketika petambak memanen udang dan bandeng, sebagai wujud solidaritas tidak dipanen semua karena memberi kesempatan masyarakat sekitar untuk mengais sisanya.
Terdapat beberapa hal kenapa pengusaha penting melakukan hal tersebut.
Pertama
, kepedulian perusahaan terhadap lingkungan baik masyarakat, pemerintah maupun kelestarian ekosistem lingkungan dapat menumbuhkan rasa aman dan ketenangan. Jangan sampai timbul kesan, keberadaan perusahaan akan merusak tatanan lingkungan sekitar, baik lingkungan kemasyarakatan, pemerintahan maupun lingkungan alam.
Kedua
, menjaga agar keberlangsungan usaha perusahaan dapat lebih terjamin. Dengan kepedulian dan empati yang diberikan, masyarakat dan pemerintah tidak ragu lagi dengan keseriusan perusahaan untuk turut serta menjaga lingkungan. Kalau sudah demikian, walaupun tidak diminta akan turut menjaga keamanan perusahaan.
Ketiga
, CSR dapat juga meningkkan reputasi bisnis. Dengan pola pemberian yang tepat, perusahaan dapat menunjukkan sisi beda dengan yang lain sehingga menciptakan pandangan yang lebih baik. Masyarakat, pemerintah dan berbagai fihak akan melihat perusahaan yang melaksanakan tanggung jawab dengan lebih baik, sebagai perusahaan yang mempunyai integritas dan praktek bisnis terbaik.
http://www.surya.co.id
Model ini sebetulnya telah berkembang dalam budaya bangsa Indonesia. Dulu kalau orang memanen padi menggunakan cara gebyok di bantalan kayu selalu tidak dibikin sangat bersih. Karena mesti disisakan bagi yang tidak punya sawah untuk ngasak (mencari sisa gebyokan padi), guna memenuhi kebutuhan pangan sanak keluarganya. Bagitu juga, ketika petambak memanen udang dan bandeng, sebagai wujud solidaritas tidak dipanen semua karena memberi kesempatan masyarakat sekitar untuk mengais sisanya.
Terdapat beberapa hal kenapa pengusaha penting melakukan hal tersebut.
Pertama
, kepedulian perusahaan terhadap lingkungan baik masyarakat, pemerintah maupun kelestarian ekosistem lingkungan dapat menumbuhkan rasa aman dan ketenangan. Jangan sampai timbul kesan, keberadaan perusahaan akan merusak tatanan lingkungan sekitar, baik lingkungan kemasyarakatan, pemerintahan maupun lingkungan alam.
Kedua
, menjaga agar keberlangsungan usaha perusahaan dapat lebih terjamin. Dengan kepedulian dan empati yang diberikan, masyarakat dan pemerintah tidak ragu lagi dengan keseriusan perusahaan untuk turut serta menjaga lingkungan. Kalau sudah demikian, walaupun tidak diminta akan turut menjaga keamanan perusahaan.
Ketiga
, CSR dapat juga meningkkan reputasi bisnis. Dengan pola pemberian yang tepat, perusahaan dapat menunjukkan sisi beda dengan yang lain sehingga menciptakan pandangan yang lebih baik. Masyarakat, pemerintah dan berbagai fihak akan melihat perusahaan yang melaksanakan tanggung jawab dengan lebih baik, sebagai perusahaan yang mempunyai integritas dan praktek bisnis terbaik.
http://www.surya.co.id
Pemasaran Masih Jadi Sandungan
Sejak memulai usaha 13 tahun lalu, tantangan terberat yang masih terus dirasakan Arief Subandi adalah terkait pemasaran produknya. Seperti beberapa nasib perajin lainnya, ujar Arief, ia harus mengandalkan event-event pameran agar produknya dilirik pembeli.
Pameran memang sarana tepat untuk mempromosikan karyanya, namun harus diakuinya, pameran yang ada di Kota Malang baru sebatas memanfaatkan momen-momen acara tertentu.
“Yang saya dan teman-teman harapkan, event pameran dibikin secara rutin seperti yang selama ini ada di Surabaya. Di sini kami hanya bisa ikut pameran paling tidak tiga bulan sekali. Padahal, banyak barang-barang yang telah diproduksi dan bahkan telah berinovasi,” terangnya.
Alhasil, Arief tidak bisa tergantung dengan pameran di Kota Malang. Beberapa kali ia mencoba menawarkan produknya ke pameran di Surabaya dengan cara menitipkan kepada teman yang ikut pameran.
“Beberapa waktu lalu, saya menitipkan kerajinan sabut kelapa saya ke teman. Cara itu yang kini banyak dilakukan teman-teman untuk mendongkrak penjualan. Kalau tidak dengan cara ini, tentu sulit. Kemudahan pemasaran di Malang belum seperti kerajinan Jogjakarta atau Bali, misalnya,” terang Arief.
Arief juga mengaku sedikit terbantu dengan peran Pemkot Malang yang memintanya menjadi instruktur pembuatan sabut kelapa ke daerah-daerah, bahkan luar pulau. Di sanalah, sekaligus ia memasarkan dagangannya.
Ke depan, Arief berharap Pemkot Malang akan menfasilitasi penjualan kerajinan khas Kota Malang lewat pameran rutin. Ia juga berharap Kota Malang memiliki tempat yang representatif untuk memajang hasil kerajinan dengan mengenakan tarif yang relatif murah.
http://www.surya.co.id
Pameran memang sarana tepat untuk mempromosikan karyanya, namun harus diakuinya, pameran yang ada di Kota Malang baru sebatas memanfaatkan momen-momen acara tertentu.
“Yang saya dan teman-teman harapkan, event pameran dibikin secara rutin seperti yang selama ini ada di Surabaya. Di sini kami hanya bisa ikut pameran paling tidak tiga bulan sekali. Padahal, banyak barang-barang yang telah diproduksi dan bahkan telah berinovasi,” terangnya.
Alhasil, Arief tidak bisa tergantung dengan pameran di Kota Malang. Beberapa kali ia mencoba menawarkan produknya ke pameran di Surabaya dengan cara menitipkan kepada teman yang ikut pameran.
“Beberapa waktu lalu, saya menitipkan kerajinan sabut kelapa saya ke teman. Cara itu yang kini banyak dilakukan teman-teman untuk mendongkrak penjualan. Kalau tidak dengan cara ini, tentu sulit. Kemudahan pemasaran di Malang belum seperti kerajinan Jogjakarta atau Bali, misalnya,” terang Arief.
Arief juga mengaku sedikit terbantu dengan peran Pemkot Malang yang memintanya menjadi instruktur pembuatan sabut kelapa ke daerah-daerah, bahkan luar pulau. Di sanalah, sekaligus ia memasarkan dagangannya.
Ke depan, Arief berharap Pemkot Malang akan menfasilitasi penjualan kerajinan khas Kota Malang lewat pameran rutin. Ia juga berharap Kota Malang memiliki tempat yang representatif untuk memajang hasil kerajinan dengan mengenakan tarif yang relatif murah.
http://www.surya.co.id
Marketing Mix
Pemasaran adalah aktivitas perusahaan untuk mempertahankan hidup, pengembangan usaha maupun meningkatkan kemampuan bersaing dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan.
William J Stanton, ahli marketing dunia, menggambarkan kegiatan pemasaran mulai dari merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan sebagai upaya memberikan kepuasan baik kepada pembeli.
Pandangan ini yang seringkali disalahpahami oleh pengusaha, karena menganggap marketing hanya dari sisi promosi saja, sementara yang lain dianggap tidak terlalu penting. Mc Carthy mengatakan, pemasaran adalah sinergi harga (price), tempat (place), promosi (promotion), dan produk (product). Konsep ini yang kemudian dikenal sebagai marketing mix.
Dalam perumusannya, model ini menghasilkan berbagai kombinasi.
Pertama, harga dan mutu produk. Banyak orang beranggapan ada kaitan erat antara keduanya. Kalau harga mahal berarti mutunya bagus, atau dalam bahasa lain kalau mutunya bagus mesti mahal harganya. Pandangan ini tidak selalu benar. Karena mutu tidak selalu identik dengan harga.
Kedua, harga dan jangkauan. Tidak banyak artinya harga produk yang hemat tetapi konsumen sulit memperolehnya karena lokasi layanan yang terbatas. Karena berarti mesti ada ongkos tambahan agar dapat menikmati dan memperoleh manfaat dari produk tersebut, sehingga terasa lebih mahal. Misalnya produk perbankan syari’ah belum signifikan dengan jumlah umat Islam yang menjadi nasabah karena faktor keterjangkauan yang masih sulit.
Ketiga, harga, keterjangkauan dan promo yang dilakukan perusahaan. Harga yang baik kalau tidak tersosialisasikan akan tidak banyak manfaatnya, karena calon konsumen tidak mengetahuinya. Misalnya, produk dengan harga terjangkau, dan gencar diiklankan di televisi nasional, tetapi ternyata baru diedarkan di wilayah Jabotabek. Iklan tersebut tentu tidak tepat, karena tidak mungkin masyarakat wilayah lainnya harus datang ke Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) terlebih dahulu untuk menikmati produk itu.
Keempat, sinergi antara harga, produk, jangkauan serta promo yang dilakukan perusahaan. Inilah paduan terbaik karena hampir semua unsur terpenuhi di dalamnya. Harga yang tepat, ditunjang dengan produk yang bermutu, dipromosikan dengan cara yang benar serta mudah diperoleh akan menjadi keunggulan dalam menyampaikan pesan produk kepada konsumen riil dan potensial.
Kombinasi empat hal tersebut akan menjadi lebih baik kalau ditambah dengan unsur layanan (service) pra, saat dan purna transaksi.
Pengusaha seringkali hanya fokus pada saat saat terjadinya transaksi saja, kemudian semuanya dianggap telah selesai. Akibatnya banyak produk laku keras di awal karena berbagai kelebihannya, tetapi di kemudian hari harus gulung tikar karena konsumen beralih ke produk lain yang memberikan jaminan purna jual dengan lebih baik. Bagaimana dengan Anda?
http://www.surya.co.id
William J Stanton, ahli marketing dunia, menggambarkan kegiatan pemasaran mulai dari merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan sebagai upaya memberikan kepuasan baik kepada pembeli.
Pandangan ini yang seringkali disalahpahami oleh pengusaha, karena menganggap marketing hanya dari sisi promosi saja, sementara yang lain dianggap tidak terlalu penting. Mc Carthy mengatakan, pemasaran adalah sinergi harga (price), tempat (place), promosi (promotion), dan produk (product). Konsep ini yang kemudian dikenal sebagai marketing mix.
Dalam perumusannya, model ini menghasilkan berbagai kombinasi.
Pertama, harga dan mutu produk. Banyak orang beranggapan ada kaitan erat antara keduanya. Kalau harga mahal berarti mutunya bagus, atau dalam bahasa lain kalau mutunya bagus mesti mahal harganya. Pandangan ini tidak selalu benar. Karena mutu tidak selalu identik dengan harga.
Kedua, harga dan jangkauan. Tidak banyak artinya harga produk yang hemat tetapi konsumen sulit memperolehnya karena lokasi layanan yang terbatas. Karena berarti mesti ada ongkos tambahan agar dapat menikmati dan memperoleh manfaat dari produk tersebut, sehingga terasa lebih mahal. Misalnya produk perbankan syari’ah belum signifikan dengan jumlah umat Islam yang menjadi nasabah karena faktor keterjangkauan yang masih sulit.
Ketiga, harga, keterjangkauan dan promo yang dilakukan perusahaan. Harga yang baik kalau tidak tersosialisasikan akan tidak banyak manfaatnya, karena calon konsumen tidak mengetahuinya. Misalnya, produk dengan harga terjangkau, dan gencar diiklankan di televisi nasional, tetapi ternyata baru diedarkan di wilayah Jabotabek. Iklan tersebut tentu tidak tepat, karena tidak mungkin masyarakat wilayah lainnya harus datang ke Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) terlebih dahulu untuk menikmati produk itu.
Keempat, sinergi antara harga, produk, jangkauan serta promo yang dilakukan perusahaan. Inilah paduan terbaik karena hampir semua unsur terpenuhi di dalamnya. Harga yang tepat, ditunjang dengan produk yang bermutu, dipromosikan dengan cara yang benar serta mudah diperoleh akan menjadi keunggulan dalam menyampaikan pesan produk kepada konsumen riil dan potensial.
Kombinasi empat hal tersebut akan menjadi lebih baik kalau ditambah dengan unsur layanan (service) pra, saat dan purna transaksi.
Pengusaha seringkali hanya fokus pada saat saat terjadinya transaksi saja, kemudian semuanya dianggap telah selesai. Akibatnya banyak produk laku keras di awal karena berbagai kelebihannya, tetapi di kemudian hari harus gulung tikar karena konsumen beralih ke produk lain yang memberikan jaminan purna jual dengan lebih baik. Bagaimana dengan Anda?
http://www.surya.co.id
Berikan Layanan Terbaik
Banyak usaha gagal di pasar, bukan karena kulitas produk yang kurang bagus. Akan tetapi karena faktor lain yang seringkali kurang disadari dan kurang memperoleh perhatian dari produsen beserta jaringan distribusinya (distributor, sub distributor, agen sampai pengecer).
Salah satunya, adalah upaya untuk memberi layanan terbaik. Terlebih lagi jika bergerak dalam layanan jasa. Pengembangan layanan menjadi sangat penting, karena akan muncul kepercayaan. Bisnis jasa sangat butuh kepercayaan. Sebagai contoh, dalam bisnis keuangan. Begitu kepercayaan hilang, nasabah akan beramai-ramai mengambil dananya.
Oleh karena itu, semua elemen perusahaan mulai dari top manajemen sampai frontliner harus bersama membangun service quality (product, process, people, place)yang prima. Mereka juga harus peka terhadap kebutuhan nasabah, inovatif, produktif, dan cepat tanggap memberi solusi sesuai harapan nasabah.
Beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan, antara lain :
Pertama, penetapan standar layanan yang pasti dari perusahaan mulai pra, saat dan purna transaksi. Dengan ini, pelanggan akan dapat memperoleh kepastian prosedur, jaminan, dan berbagai hal lain sesuai dengan standar yang ditetapkan. Ketika pelanggan bertemu dengan siapa saja, akan mendapatkan layanan yang sama tanpa membedakan status.
Kedua, berikan layanan yang lebih sensier (tulus dan tidak terkesan basa-basi). Ketulusan, dapat memberikan kenyamanan yang lebih bagi pelanggan. Dengan ini, pelanggan akan merasa seperti dalam satu lingkungan keluarga besar.
Ketiga, saat-saat tertentu berikan kejutan bagi pelanggan. Kita dapat menggelar acara terutama program peningkatan loyalitas pelanggan (loyalty program costumer), melalui gathering perusahaan dengan konsumen. Pola lain juga dapat dilakukan dengan memberikan hadiah dalam bentuk barang, jasa service, ataupun kejutan kedatangan ke rumah pelanggan.
Keempat, kecepatan dan ketepatan dalam melayani keluhan pelanggan. Kalau diamati hampir tiap hari di media muncul keluhan yang tak tertangani secara baik. Akibatnya image perusahaan bisa amburadul karena terbaca oleh banyak orang.
Berbagai alternatif di atas, merupakan wujud memberikan yang terbaik. Jika beruntung, akan muncul kebanggaan pelanggan guna peningkatan citra perusahaan dalam jangka panjang. Selamat mencoba!
Sumber : http://www.surya.co.id
Berbisnislah dengan Tawa
Judul di atas seolah menunjukkan sebuah bisnis penuh dengan kesenangan, keceriaan dan keadaan yang serba mengenakkan. Bukan itu maksudnya. Tawa dimaksud adalah tiga H (baca ha, ha, ha) agar dapat menjalankan bisnis dengan baik.
Seorang pengusaha harus mengelola ketiganya secara sinergis sehingga dapat menutupi kelemahan dan menunjang kekuatan masing-masing. Tiga fungsi tersebut, antara lain :
Pertama, penggunaan otak kiri dan kanan secara berimbang (Head). Keseimbangan ini penting agar dapat berjalan secara sinergis antara keteraturan dengan keberanian mengambil keputusan. Otak kiri, identik dengan pemikiran kehidupan yang serba teratur tanpa banyak perubahan. Menjadi karyawan adalah bagian dari penggunaan otak kiri. Bangun tidur, mandi, bekerja, istirahat bersama keluarga, tidur dan bangun pagi lagi untuk melakukan aktifitas yang sama. Jika terlalu mengandalkan ini, kehidupan jadi monoton. Sementara otak kanan lebih mengarah pada keberanian dan kehidupan yang lebih dinamis. Menjadi wirausaha adalah bagian dari keberanian mengambil risiko. Dunia bisnis, penuh dengan upaya untuk memenangkan persaingan agar usaha dapat terus eksis.
Tetapi jangan terlalu kanan, agar tak lepas kontrol. Di samping keberanian, juga harus dibarengi keteraturan manajemen dan profesionalisme usaha. Harus juga dibarengi kemampuan bekerja sama antar pengusaha untuk mengembangkan jaringan.
Sumber : http://www.surya.co.id
Seorang pengusaha harus mengelola ketiganya secara sinergis sehingga dapat menutupi kelemahan dan menunjang kekuatan masing-masing. Tiga fungsi tersebut, antara lain :
Pertama, penggunaan otak kiri dan kanan secara berimbang (Head). Keseimbangan ini penting agar dapat berjalan secara sinergis antara keteraturan dengan keberanian mengambil keputusan. Otak kiri, identik dengan pemikiran kehidupan yang serba teratur tanpa banyak perubahan. Menjadi karyawan adalah bagian dari penggunaan otak kiri. Bangun tidur, mandi, bekerja, istirahat bersama keluarga, tidur dan bangun pagi lagi untuk melakukan aktifitas yang sama. Jika terlalu mengandalkan ini, kehidupan jadi monoton. Sementara otak kanan lebih mengarah pada keberanian dan kehidupan yang lebih dinamis. Menjadi wirausaha adalah bagian dari keberanian mengambil risiko. Dunia bisnis, penuh dengan upaya untuk memenangkan persaingan agar usaha dapat terus eksis.
Tetapi jangan terlalu kanan, agar tak lepas kontrol. Di samping keberanian, juga harus dibarengi keteraturan manajemen dan profesionalisme usaha. Harus juga dibarengi kemampuan bekerja sama antar pengusaha untuk mengembangkan jaringan.
Sumber : http://www.surya.co.id
Direct Selling
Menjual barang itu gampang-gampang susah. Beberapa produk dapat dijual melalui toko, supermarker, mal dan yang lainnya. Akan tetapi, ada juga produk yang tidak bisa dipasarkan dengan model tersebut.
Kenapa demikian? karena spesifikasinya yang khusus, harus dikenalkan dengan memberikan pengetahuan tentang barang atau jasa tersebut dari sisi keunikan, keunggulan, teknologi, dan hal lain tentang produk tersebut.
Di sinilah pengusaha harus jeli menentukan pilihan, apakah produk dan jasa perusahaan harus dijual langsung (direct selling), maupun tidak langsung (indirect selling).
Penjualan secara langsung mempunyai beberapa keunggulan seperti tingkat keuntungan yang diperoleh bisa lebih besar karena memperpendek jalur distribusi, sehingga harga jual juga bisa ditekan.
Akan tetapi model ini memerlukan tenaga-tenaga terampil dan menarik dengan jumlah yang lebih banyak agar kecepatan dan penyebaran dalam lingkup yang luas dapat terjangkau. Beberapa persyaratan tersebut, antara lain :
Pertama, wiraniaga harus mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Segala teknik menjual tidak akan dapat berhasil, jika wiraniaga tidak mampu membangun kepribadian dengan baik agar mampu menarik calon konsumen. Konsumen memerlukan berbagai hal yang membuat dirinya merasa nyaman, diperhatikan, dihargai serta tidak merasa terancam.
Paul J. Micali (1994) ahli kepribadian dunia, mengungkapkan ada empat hal yang harus dipunyai oleh wiraniaga seperti pribadi yang menyenangkan (the engaging personality), meyakinkan (assuring), berwibawa dan dinamis.
Kedua, harus dibangun sistem komunikasi yang selalu dapat menyesuaikan dengan target pasar. Masing-masing daerah punya adat budaya yang berbeda, sehingga seorang wiraniaga harus diberikan keterampilan untuk dapat menyesuaikan dalam berbagai kondisi dan kebiasaan calon pelanggan.
Dalam berkomunikasi, wiraniaga juga harus tahu kapan saatnya mesti menjadi pendengar yang efektif dan paham saat dan cara berbicara secara baik kepada calon konsumen, agar tidak merasa terganggu. Sebab jika tidak tepat, calon konsumen bukan hanya merasa terganggu tetapi bisa jadi langsung mengusir dan menolak untuk ditemui.
Ketiga, wiraniaga juga harus memahami dengan baik calon konsumen. Masing-masing orang tidak dapat diperlakukan dengan cara sama.
Patrik (2003), seorang ahli pemasaran mengungkapkan ada empat tipe manusia yang harus dipahami wiraniaga dan kemudian dipelajari untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan. Tipe tersebuat di antaranya asertif dan akomodatif dengan kategori dingin saat berkomunikasi, serta akomodatif dan asertif dalam kategori hangat ketika berkomunikasi dengan pihak lain.
Kepribadian yang menyenangkan, sistem komunikasi yang baik dan pemahaman terhadap karakter konsumen yang berbeda-beda adalah salah satu model yang bisa dibangun agar perusahaan dapat menjual produk lebih banyak dan berjangka panjang. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Kenapa demikian? karena spesifikasinya yang khusus, harus dikenalkan dengan memberikan pengetahuan tentang barang atau jasa tersebut dari sisi keunikan, keunggulan, teknologi, dan hal lain tentang produk tersebut.
Di sinilah pengusaha harus jeli menentukan pilihan, apakah produk dan jasa perusahaan harus dijual langsung (direct selling), maupun tidak langsung (indirect selling).
Penjualan secara langsung mempunyai beberapa keunggulan seperti tingkat keuntungan yang diperoleh bisa lebih besar karena memperpendek jalur distribusi, sehingga harga jual juga bisa ditekan.
Akan tetapi model ini memerlukan tenaga-tenaga terampil dan menarik dengan jumlah yang lebih banyak agar kecepatan dan penyebaran dalam lingkup yang luas dapat terjangkau. Beberapa persyaratan tersebut, antara lain :
Pertama, wiraniaga harus mempunyai kepribadian yang menyenangkan. Segala teknik menjual tidak akan dapat berhasil, jika wiraniaga tidak mampu membangun kepribadian dengan baik agar mampu menarik calon konsumen. Konsumen memerlukan berbagai hal yang membuat dirinya merasa nyaman, diperhatikan, dihargai serta tidak merasa terancam.
Paul J. Micali (1994) ahli kepribadian dunia, mengungkapkan ada empat hal yang harus dipunyai oleh wiraniaga seperti pribadi yang menyenangkan (the engaging personality), meyakinkan (assuring), berwibawa dan dinamis.
Kedua, harus dibangun sistem komunikasi yang selalu dapat menyesuaikan dengan target pasar. Masing-masing daerah punya adat budaya yang berbeda, sehingga seorang wiraniaga harus diberikan keterampilan untuk dapat menyesuaikan dalam berbagai kondisi dan kebiasaan calon pelanggan.
Dalam berkomunikasi, wiraniaga juga harus tahu kapan saatnya mesti menjadi pendengar yang efektif dan paham saat dan cara berbicara secara baik kepada calon konsumen, agar tidak merasa terganggu. Sebab jika tidak tepat, calon konsumen bukan hanya merasa terganggu tetapi bisa jadi langsung mengusir dan menolak untuk ditemui.
Ketiga, wiraniaga juga harus memahami dengan baik calon konsumen. Masing-masing orang tidak dapat diperlakukan dengan cara sama.
Patrik (2003), seorang ahli pemasaran mengungkapkan ada empat tipe manusia yang harus dipahami wiraniaga dan kemudian dipelajari untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan. Tipe tersebuat di antaranya asertif dan akomodatif dengan kategori dingin saat berkomunikasi, serta akomodatif dan asertif dalam kategori hangat ketika berkomunikasi dengan pihak lain.
Kepribadian yang menyenangkan, sistem komunikasi yang baik dan pemahaman terhadap karakter konsumen yang berbeda-beda adalah salah satu model yang bisa dibangun agar perusahaan dapat menjual produk lebih banyak dan berjangka panjang. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Berinteraksilah dengan Perubahan Pelanggan
Memahami konsumen beserta perubahannya sebetulnya salah satu kunci sukses dalam menjalankan usaha. Akan tetapi ini bukan pekerjaan ringan, karena masing-masing konsumen tentu punya keinginan, keyakinan dan pandangan yang berbeda saat mengonsumsi produk untuk memenuhi kebutuhannya dan mendapat kepuasan sebagaimana yang dipersepsikan.
Nah, apabila ingin terus menuai sukses, pengusaha harus dapat selalu memahami, memelihara dan mempertahankan pengetahuan mereka tentang pelanggan dengan segala atribut perubahannya. Dengan demikian, pengusaha akan dapat memenuhi nilai yang diinginkan konsumen.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain :
Pertama, berkomunikasilah dengan pelanggan tentang hal yang mereka inginkan dari produk kita. Pengusaha harus fokus dalam memenuhi keinginan konsumen beserta segala atribut perubahannya agar dapat memberikan nilai lebih yang dapat memunculkan kepuasan dan kebanggaan sesuai dengan persepsinya masing-masing. Sebab, ada sekolompok pelanggan di wilayah tertentu, beranggapan bahwa barang mahal pasti berkualitas baik. Akan tetapi, ada kelompok yang sangat sensitif terhadap harga.
Kedua, jangan segan bertanya kepada relasi dalam jaringan tentang apa yang mereka inginkan agar produk tetap menarik di semua mata rantai distribusi. Ini menjadi penting, karena tidak ada artinya kalau konsumen sudah punya persepsi baik terhadap produk, ternyata jaringan distribusi justru menghambat sampainya produk di tangan konsumen karena tidak memperoleh nilai sesuai dengan pengharapannya dalam memasarkan produk.
Ketiga, buatlah rencana perubahan yang tepat seiring perubahan keinginan konsumen. Hal ini bisa dilakukan dengan menambah nilai yang mampu mengikat konsumen untuk selalu setia dengan produk yang kita tawarkan.
Pola ini dilakukan beberapa perusahaan besar, seperti produk untuk memotong kumis dan jenggot merk Gillette yang hanya kompatibel dengan produk pisau silet merk yang sama.
Memahami dan selalu berusaha memenuhi keinginan konsumen semestinya merupakan harapan semua pengusaha.
Bukan saatnya lagi mencekoki konsumen dengan produk berdasarkan feeling pengusaha, karena bisa jadi keinginan yang ingin diperoleh jauh berbeda. Disinilah perlunya kepintaran dan kecerdikan dalam mengelola perubahan. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Nah, apabila ingin terus menuai sukses, pengusaha harus dapat selalu memahami, memelihara dan mempertahankan pengetahuan mereka tentang pelanggan dengan segala atribut perubahannya. Dengan demikian, pengusaha akan dapat memenuhi nilai yang diinginkan konsumen.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain :
Pertama, berkomunikasilah dengan pelanggan tentang hal yang mereka inginkan dari produk kita. Pengusaha harus fokus dalam memenuhi keinginan konsumen beserta segala atribut perubahannya agar dapat memberikan nilai lebih yang dapat memunculkan kepuasan dan kebanggaan sesuai dengan persepsinya masing-masing. Sebab, ada sekolompok pelanggan di wilayah tertentu, beranggapan bahwa barang mahal pasti berkualitas baik. Akan tetapi, ada kelompok yang sangat sensitif terhadap harga.
Kedua, jangan segan bertanya kepada relasi dalam jaringan tentang apa yang mereka inginkan agar produk tetap menarik di semua mata rantai distribusi. Ini menjadi penting, karena tidak ada artinya kalau konsumen sudah punya persepsi baik terhadap produk, ternyata jaringan distribusi justru menghambat sampainya produk di tangan konsumen karena tidak memperoleh nilai sesuai dengan pengharapannya dalam memasarkan produk.
Ketiga, buatlah rencana perubahan yang tepat seiring perubahan keinginan konsumen. Hal ini bisa dilakukan dengan menambah nilai yang mampu mengikat konsumen untuk selalu setia dengan produk yang kita tawarkan.
Pola ini dilakukan beberapa perusahaan besar, seperti produk untuk memotong kumis dan jenggot merk Gillette yang hanya kompatibel dengan produk pisau silet merk yang sama.
Memahami dan selalu berusaha memenuhi keinginan konsumen semestinya merupakan harapan semua pengusaha.
Bukan saatnya lagi mencekoki konsumen dengan produk berdasarkan feeling pengusaha, karena bisa jadi keinginan yang ingin diperoleh jauh berbeda. Disinilah perlunya kepintaran dan kecerdikan dalam mengelola perubahan. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Kejelian dan Kesuksesan Berbisnis
Dulu tidak ada orang yang mengenal Sinta dan Jojo, kecuali teman kuliah, sahabat dan kerabatnya. Berbekal video lipsink, lagu Keong Racun, Sinta dan Jojo kini tidak sekadar tenar, akan tetapi berpendapatan besar. Mereka berdua telah menjadi bintang iklan beberapa produk nasional.
Apa makna dari peristiwa ini? Pentingnya kejelian memotret peluang. Tanpa kejelian, seringkali kita merasa segalanya sudah ada dan ditangani oleh banyak pebisnis. Padahal ada sisi-sisi tertentu yang sebetulnya belum banyak digarap.
Banyak hal yang bisa dilakukan agar pengusaha jeli dan selalu menjadi yang terdepan dalam perubahan.
Pertama, pelajari segala peristiwa yang terjadi dan teropong peluang yang mungkin muncul dieksekusi. Dunia terus berubah dan setiap perubahan memunculkan peluang baru bagi pengusaha yang kreatif. Dahulu orang memakai jas hujan mesti memilih yang tebal dan tahan lama karena kebutuhannya tidak sepanjang tahun. Tetapi sekarang karena cuaca tidak menentu, orang seringkali mencari jas hujan praktis, meskipun terkadang kurang awet.
Kedua, Jangan segan mencari data statistik tentang hal yang mungkin bermanfaat bagi bisnis yang kita jalani. Data kelahiran bayi dan pertumbuhannya dapat dijadikan dasar menghitung peluang produksi dan penjualan peralatan bayi, mulai dari pakaian, popok, stagen untuk ibunya, bedak bayi dan lain sebagainya. Begitu juga, data jenis kelamin akan dapat dijadikan pertimbangan peruntukan produk dan target pasar atas hasil produksi perusahaan.
Ketiga, pelajari perilaku konsumen dan berbagai perubahan yang terjadi. Banyak faktor yang memengaruhi perilaku konsumen, dan banyak pula elemen yang membuat perilaku tersebut berubah. Mulai dari faktor internal, seperti motivasi dalam berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya, desakan memperoleh produk tertentu.
Misalnya orang membeli produk motor lebih dipengaruhi keawetan produk, akan tetapi ketika membeli pulpen justru lebih mengutamakan prestise yang diperoleh.
Banyak hal yang bisa digali, banyak ide yang bisa diungkap dan banyak keputusan yang dapat diambil apabila kita terus mau belajar dari perubahan perilaku konsumen. Bagaimana dengan Anda?
http://www.surya.co.id
Apa makna dari peristiwa ini? Pentingnya kejelian memotret peluang. Tanpa kejelian, seringkali kita merasa segalanya sudah ada dan ditangani oleh banyak pebisnis. Padahal ada sisi-sisi tertentu yang sebetulnya belum banyak digarap.
Banyak hal yang bisa dilakukan agar pengusaha jeli dan selalu menjadi yang terdepan dalam perubahan.
Pertama, pelajari segala peristiwa yang terjadi dan teropong peluang yang mungkin muncul dieksekusi. Dunia terus berubah dan setiap perubahan memunculkan peluang baru bagi pengusaha yang kreatif. Dahulu orang memakai jas hujan mesti memilih yang tebal dan tahan lama karena kebutuhannya tidak sepanjang tahun. Tetapi sekarang karena cuaca tidak menentu, orang seringkali mencari jas hujan praktis, meskipun terkadang kurang awet.
Kedua, Jangan segan mencari data statistik tentang hal yang mungkin bermanfaat bagi bisnis yang kita jalani. Data kelahiran bayi dan pertumbuhannya dapat dijadikan dasar menghitung peluang produksi dan penjualan peralatan bayi, mulai dari pakaian, popok, stagen untuk ibunya, bedak bayi dan lain sebagainya. Begitu juga, data jenis kelamin akan dapat dijadikan pertimbangan peruntukan produk dan target pasar atas hasil produksi perusahaan.
Ketiga, pelajari perilaku konsumen dan berbagai perubahan yang terjadi. Banyak faktor yang memengaruhi perilaku konsumen, dan banyak pula elemen yang membuat perilaku tersebut berubah. Mulai dari faktor internal, seperti motivasi dalam berperilaku untuk memenuhi kebutuhannya, desakan memperoleh produk tertentu.
Misalnya orang membeli produk motor lebih dipengaruhi keawetan produk, akan tetapi ketika membeli pulpen justru lebih mengutamakan prestise yang diperoleh.
Banyak hal yang bisa digali, banyak ide yang bisa diungkap dan banyak keputusan yang dapat diambil apabila kita terus mau belajar dari perubahan perilaku konsumen. Bagaimana dengan Anda?
http://www.surya.co.id
Pentingnya Prioritas Bisnis
Saat saya naik pesawat dari Jakarta menuju Surabaya, ada tulisan dalam majalah yang menarik perhatian. Jemy VC mengulas tentang prioritas dalam hidup. Ia mengutip pepatah kuno Cina : Tidak ada orang bodoh, yang ada adalah orang yang tidak dapat menentukan prioritas.
Kenapa menarik? Karena ternyata banyak orang salah menafsirkan prioritas sebagai sesuatu yang penting dan yang tidak penting. Padahal yang lebih tepat bagi pebisnis adalah menentukan yang penting dan yang lebih penting. Dengan demikian, tidak ada yang terabaikan untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Bagi pengusaha, sebetulnya semua peristiwa dan keadaan mesti dicermati secara terus menerus. Selanjutnya tinggal menentukan urutan dari yang paling penting, sangat penting, sampai pada kondisi cukup penting.
Jemy VC menggambarkan sebuah kotak aquarium yang tertutup batu besar, bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk dimasuki benda lain agar optimal. Karena masih ada kerikil yang bisa dimasukkan, pasir yang diselipkan dan air yang digelontorkan agar aquarium betul-betul penuh. Ini menggambarkan dengan penetapan prioritas yang baik, banyak hal sepertinya tidak mungkin, menjadi sangat mungkin dilakukan.
Berikut langkah-langkah membuat prioritas dalam bisnis secara baik :
Pertama, cari beberapa alternatif kebijakan yang akan diambil sebagai dasar pengambilan keputusan usaha. Makin banyak pilihan, akan makin baik. Dalam pandangan kuno, pikiran dua orang lebih baik dari satu orang, selanjutnya pikiran tiga orang lebih baik dari pikiran dua orang.
Kedua, lakukan evaluasi atas semua pilihan yang ada dan tentukan yang paling tepat untuk dapat digunakan saat pengambilan keputusan. Plus minus dari semua alternatif dijadikan pertimbangan. Selanjutnya kita dapat menggunakan scoring agar masing-masing dapat dihitung dan dikalkulasi untung dan ruginya bagi perjalanan usaha.
Ketiga, lakukan pilihan atas berbagai alternatif yang memungkinkan untuk diterapkan bagi usaha yang dijalankan. Masing-masing pengusaha bisa jadi berbeda dalam memandang dan mengambil keputusan, karena memang harus disesuaikan dengan karakter bisnis masing-masing.
Keempat, tentukan urutan keputusan yang harus dijalankan dari alternatif yang sudah dipilih. Tidak semua dapat digunakan secara bersamaan, sesuai dengan kondisi yang terjadi.
Andre Wongso dan Purdie E Candra, motivator nasional menyampaikan sukses dan gagal sebetulnya pilihan hidup seseorang. Yang mau kerja keras dan cerdas dan dapat menentukan prioritas hidup secara baik berarti pilihan hidupnya sukses. Jadi kalau kita gagal, salahkan saja diri kita sendiri karena tidak dapat menetapkan prioritas secara tepat dalam bisnis. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Kenapa menarik? Karena ternyata banyak orang salah menafsirkan prioritas sebagai sesuatu yang penting dan yang tidak penting. Padahal yang lebih tepat bagi pebisnis adalah menentukan yang penting dan yang lebih penting. Dengan demikian, tidak ada yang terabaikan untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil keputusan.
Bagi pengusaha, sebetulnya semua peristiwa dan keadaan mesti dicermati secara terus menerus. Selanjutnya tinggal menentukan urutan dari yang paling penting, sangat penting, sampai pada kondisi cukup penting.
Jemy VC menggambarkan sebuah kotak aquarium yang tertutup batu besar, bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk dimasuki benda lain agar optimal. Karena masih ada kerikil yang bisa dimasukkan, pasir yang diselipkan dan air yang digelontorkan agar aquarium betul-betul penuh. Ini menggambarkan dengan penetapan prioritas yang baik, banyak hal sepertinya tidak mungkin, menjadi sangat mungkin dilakukan.
Berikut langkah-langkah membuat prioritas dalam bisnis secara baik :
Pertama, cari beberapa alternatif kebijakan yang akan diambil sebagai dasar pengambilan keputusan usaha. Makin banyak pilihan, akan makin baik. Dalam pandangan kuno, pikiran dua orang lebih baik dari satu orang, selanjutnya pikiran tiga orang lebih baik dari pikiran dua orang.
Kedua, lakukan evaluasi atas semua pilihan yang ada dan tentukan yang paling tepat untuk dapat digunakan saat pengambilan keputusan. Plus minus dari semua alternatif dijadikan pertimbangan. Selanjutnya kita dapat menggunakan scoring agar masing-masing dapat dihitung dan dikalkulasi untung dan ruginya bagi perjalanan usaha.
Ketiga, lakukan pilihan atas berbagai alternatif yang memungkinkan untuk diterapkan bagi usaha yang dijalankan. Masing-masing pengusaha bisa jadi berbeda dalam memandang dan mengambil keputusan, karena memang harus disesuaikan dengan karakter bisnis masing-masing.
Keempat, tentukan urutan keputusan yang harus dijalankan dari alternatif yang sudah dipilih. Tidak semua dapat digunakan secara bersamaan, sesuai dengan kondisi yang terjadi.
Andre Wongso dan Purdie E Candra, motivator nasional menyampaikan sukses dan gagal sebetulnya pilihan hidup seseorang. Yang mau kerja keras dan cerdas dan dapat menentukan prioritas hidup secara baik berarti pilihan hidupnya sukses. Jadi kalau kita gagal, salahkan saja diri kita sendiri karena tidak dapat menetapkan prioritas secara tepat dalam bisnis. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Berbaik-Baiklah Pada Pelanggan
Salah satu kunci sukses dalam berusaha adalah menjaga hubungan yang baik dengan pelanggan dan calon pelanggan. Pelanggan yang puas akan menjadi pengguna setia, bahkan menjadi pemasar aktif produk kita.
Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah :
Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi.
Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo.
Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (relationship bonding) sehingga produsen dapat mendengar langsung keinginan konsumen untuk dipilah dan dipenuhi. Keempat, menciptakan ikatan melalui pembentukan komunitas (community bonding). Para pengguna difasilitasi mengaktualisasikan diri melalui komunitas merek, misalnya melalui seminar, kumpul-kumpul atau tur.
Kelima, advocacy bonding, yaitu menggerakkan konsumen menjadi pemakai sekaligus pemasar. Inilah tahap akhir dalam penciptaan hubungan yang baik dengan pelanggan.
Konsumen yang dianggap raja bisa diubah menjadi pemasar yang baik untuk produk kita. Kuncinya, kembangkan hubungan baik dan terus-menerus. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Cros and Garret Smith konsultan bisnis dunia, mengungkapkan hubungan baik bisa dicapai lewat beberapa langkah :
Pertama, membuat nama merek familiar dengan kebanyakan pasar sasaran yang dituju (awareness bonding). Merek yang mudah dilafalkan masyarakat sasaran, biasanya jauh lebih mudah dikenal dan diingat konsumen saat bertransaksi.
Kedua, menciptakan loyalitas merek (identifying bonding) dengan membuat merek berdasar komunitas, ikatan emosional kelompok sasaran dan lain-lain. Misalnya kelompok merek Bintang Songo bisa dibuat dalam berbagai penamaan yang sesuai. Misalnya, produk pakan ternak menggunakan BISON, hasil pertanian menggunakan BINGO. Dengan singkatan apapun, kepanjangannya tetap Bintang Songo.
Ketiga, membangun konsep hubungan dua arah antara produsen dan konsumen (relationship bonding) sehingga produsen dapat mendengar langsung keinginan konsumen untuk dipilah dan dipenuhi. Keempat, menciptakan ikatan melalui pembentukan komunitas (community bonding). Para pengguna difasilitasi mengaktualisasikan diri melalui komunitas merek, misalnya melalui seminar, kumpul-kumpul atau tur.
Kelima, advocacy bonding, yaitu menggerakkan konsumen menjadi pemakai sekaligus pemasar. Inilah tahap akhir dalam penciptaan hubungan yang baik dengan pelanggan.
Konsumen yang dianggap raja bisa diubah menjadi pemasar yang baik untuk produk kita. Kuncinya, kembangkan hubungan baik dan terus-menerus. Bagaimana dengan Anda?
Sumber : http://www.surya.co.id
Langganan:
Postingan (Atom)



